Citra Pengindraan Jauh: Citra Nonfoto

Citra Pengindraan Jauh: Citra Nonfoto

Citra Pengindraan Jauh: Citra Nonfoto

Citra nonfoto adalah citra yang dihasilkan dengan menggunakan sensor bukan kamera serta memanfaatkan bagian spektrum elektromagnet dari sinar X hingga gelombang radio. Citra nonfoto dapat diklasifikasikan berdasarkan spektrum elektromagnet, sensor, dan wahana yang digunakan.

Berdasarkan spektrum elektromagnet yang digunakan, citra nonfoto dapat dibedakan menjadi citra inframerah termal serta citra gelombang mikro dan radar. Citra inframerah termal dibuat dengan spektrum inframerah termal serta menggunakan sensor solid state detector dalam scanner atau radiometer. Dengan citra ini, pengamatan objek dilakukan berdasarkan perbedaan temperatur tiap objek di permukaan bumi. Sementara itu, citra gelombang mikro dan radar merupakan citra yang dihasilkan dari pengindraan jauh sistem gelombang mikro. Citra gelombang mikro dihasilkan dengan menggunakan scanner dan radiometer atau dengan antena dan circuit sebagai sensor. Sensor gelombang mikro aktif disebut sistem radar (radio detection and ranging), yaitu sensor yang memancarkan sinyal pada gelombang mikro dan menerima pantulan untuk membentuk citra dari objek di permukaan bumi.

Berdasarkan sensor yang digunakan, citra nonfoto dibedakan menjadi citra tunggal dan citra multispektral. Citra tunggal adalah citra yang dihasilkan dari sistem sensor tunggal. Sementara itu, citra multispektral adalah citra yang dihasilkan dari sistem saluran jamak. Citra tunggal umumnya dihasilkan oleh rentang saluran (band) yang lebar. Sementara itu, citra multispektral dihasilkan oleh rentang saluran (band) yang sempit.

Berdasarkan wahana yang digunakan, citra nonfoto dibedakan menjadi citra dirgantara (airborne image) dan citra satelit (satellite/spaceborne image). Citra dirgantara adalah citra yang dihasilkan oleh sistem yang beroperasi di udara (dirgantara). Sementara itu, citra satelit adalah citra yang dihasilkan oleh sistem yang berada di antariksa atau angkasa luar.


Baca Artikel Lainnya:

Pola Keruangan Wilayah Kota Berdasarkan Teori Konsentris dan Teori Ketinggian Bangunan

Pola Keruangan Wilayah Kota Berdasarkan Teori Konsentris dan Teori Ketinggian Bangunan

Pola Keruangan Wilayah Kota Berdasarkan Teori Konsentris dan Teori Ketinggian Bangunan

Menurut Yunus (2006), terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk menyoroti dinamika kehidupan suatu kota, khususnya berdasarkan penggunaan lahan kota atau tata ruang kota tersebut. Pendekatan-pendekatan tersebut dapat dikategorikan menjadi empat macam, yaitu pendekatan ekologi, pendekatan ekonomi, pendekatan  morfologi, dan pendekatan sistem kegiatan. Saat ini, kita akan membahas tentang pendekatan ekologi, khususnya berdasarkan teori konsentris dan teori ketinggian bangunan.

  1.    Teori Konsentris

Teori konsentris muncul dari pemerhati ekologi Kota Chicago, Amerika Serikat, setelah melihat adanya keteraturan pola penggunaan lahan yang tercipta sebagai hasil proses interelasi elemen-elemen wilayah di kotanya. Pakar yang pertama kali mencetuskan teori ini adalah E.W. Burges (1925). Menurut teori ini, daerah perkotaan terdiri atas 5 zona secara berlapis-lapis, yaitu daerah pusat kegiatan (central business district), zona peralihan (transition zone), zona permukiman pekerja (zone of working men’s homes), zona permukiman yang lebih baik (zone of better residences), dan zona para penglaju (zone of commuters).

Daerah pusat kegiatan adalah pusat dari segala kegiatan di kota, antara lain pada bidang politik, sosial, ekonomi, dan teknologi. Daerah ini masih dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bagian paling inti disebut RDB (Retail Business District) dan bagian WBD (Wholesale Business District). Di RDB terdapat kegiatan dominan berupa supermarket, perkantoran, bank, hotel, serta kantor pemerintahan. Sementara itu, WBD ditempati oleh bangunan yang diperuntukkan bagi kegiatan ekonomi dalam jumlah besar, seperti pasar dan pergudangan. Zona peralihan merupakan zona yang mengalami penurunan kualitas lingkungan semakin lama semakin parah. Selanjutnya, zona perumahan para pekerja banyak ditempati oleh pekerja, baik pekerja kantor maupun pekerja industri yang menginginkan bertempat tinggal dekat dengan tempat kerjanya. Zona permukiman yang lebih baik ditempati oleh penduduk yang berstatus ekonomi menengah ke atas. Walaupun ada yang tidak berstatus ekonomi atas, mereka mengusahakan sendiri bisnis kecil-kecilan. Sementara itu, zona penglaju ditempati oleh pekerja yang tidak menginap di pusat kota.

  1.    Teori Ketinggian Bangunan

Teori ini dikemukakan oleh Bergel (1955), ia mengusulkan untuk memperhatikan ketinggian bangunan dalam analisis keruangan kota. Teori ini melengkapi teori konsentris yang hanya memandang ruang kota secara dua dimensi. Menurut teori ini, aksesibilitas kota tidak hanya dipandang secara horizontal, tetapi juga secara vertikal. Misalnya, pada gedung yang tinggi, aksesibilitas paling tinggi adalah di lantai dasar (paling bawah) sehingga ruang-ruang di sini ditempati oleh kegiatan yang paling kuat ekonominya (pengaruhnya). Semakin ke atas, ruang akan dihuni oleh fungsi-fungsi yang lebih lemah.


Baca Artikel Lainnya:

Pola Keruangan Wilayah Kota Berdasarkan Teori Ukuran Kota dan Teori Historis

Pola Keruangan Wilayah Kota Berdasarkan Teori Ukuran Kota dan Teori Historis

Pola Keruangan Wilayah Kota Berdasarkan Teori Ukuran Kota dan Teori Historis

Mvagusta.Co.Id – Menurut Yunus (2006), terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk menyoroti dinamika kehidupan suatu kota, khususnya berdasarkan penggunaan lahan kota atau tata ruang kota tersebut. Pendekatan-pendekatan tersebut dapat dikategorikan menjadi empat macam, yaitu pendekatan ekologi, pendekatan ekonomi, pendekatan  morfologi, dan pendekatan sistem kegiatan. Saat ini, kita akan membahas tentang pendekatan ekologi, khususnya berdasarkan teori ukuran kota dan teori historis.

  1.   Teori Ukuran Kota

Teori ini dikemukakan oleh Taylor (1949). Ia secara khusus mengamati kota berdasarkan ciri-ciri pertumbuhannya. Menurut Taylor terdapat 5 tingkatan pertumbuhan kota sebagai berikut.

  1. Infantile towns, ditandai dengan gejala diferensiasi zona dan toko-toko yang mulai terpisah.
  2. Juvenile towns, ditandai oleh gejala diferensiasi zona dan toko-toko telah terpisah.
  3. Adolescent towns, mulai terdapat pabrik-pabrik, tetapi belum menunjukkan adanya rumah- rumah kelas tinggi.
  4. Early mature towns, menunjukkan adanya segregasi yang jelas pada rumah-rumah kelas tinggi.
  5. Mature towns, menunjukkan adanya pemisahan antara daerah perdagangan dan industri serta terdapat zona-zona perumahan yang berbeda-beda kualitasnya.
  1.   Teori Historis

Teori historis dikemukakan oleh William Alonso (1964). Alonso melakukan analisis berdasarkan kenyataan historis yang berkaitan dengan perubahan tempat tinggal di dalam kota. Oleh karena adanya perubahan teknologi yang cepat di bidang transportasi dan komunikasi, maka mendorong terjadinya perpindahan penduduk ke luar kota. Meningkatnya standar hidup masyarakat yang semula tinggal di CBD disertai dengan penurunan kualitas lingkungan, dapat mendorong penduduk untuk pindah ke daerah pinggiran kota. Dalam hal ini, kontak personal tidak lagi harus dengan bertemu langsung, tetapi melalui jaringan telepon yang telah berkembang.

Berdasarkan gambar, keterangan a menunjukkan terjadi gerakan ke luar kota. Keterangan b menunjukkan upaya perbaikan daerah permukiman di sekitar CBD sehingga wilayah ini menarik untuk ditempati. Akibatnya, timbul permukiman di pinggiran CDB, di mana penduduk yang telah ke luar kota tertarik masuk kembali oleh karena banyak tersedianya fasilitas. Keterangan c menunjukkan program perbaikan permukiman di sekitar CBD meluas sehingga tumbuh zona permukiman yang baru.